Home / Informasi Umum / Pendidikan / Thaif: Saksi Bisu Tragedi Pahit Dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
Gedung Thaif salah satu Gedung belajar di PPRU Sakatiga

Thaif: Saksi Bisu Tragedi Pahit Dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Di tengah gencar-gencarnya dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam secara terang-terangan, menjadi sebuah tantangan yang amat besar untuk menyebarluaskan Islam di Jazirah Arab. Dalam kondisi yang sarat akan intimidasi dan penganiayaan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pergi ke Thaif, sebuah wilayah sebelah timur Kota Makkah dengan harapan para penduduknya mau menerima dakwah Islam atau setidaknya memberi pertolongan kepada beliau. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berangkat dengan berjalan kaki bersama pelayannya, Zaid bin Haritsah. Setiap kali melewati suatu kabilah di perjalanan, beliau mengajak mereka memeluk Islam hingga akhirnya sampai di Thaif.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam singgah di kediaman tiga orang bersaudara yang merupakan petinggi kabilah Bani Tsaqif dan menyeru mereka agar mau masuk Islam dan mau menolong beliau dalam menyebarluaskan Islam. Namun, mereka malah menolak ajakan beliau dengan kasar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun meninggalkan mereka dan berpaling kepada yang lain, mengajak mereka untuk menerima dan membela Islam.

Gedung Thaif salah satu Gedung belajar di PPRU Sakatiga
Gedung Thaif, salah satu Gedung belajar di PPRU Sakatiga

Ternyata hingga 10 hari beliau berdakwah tidak membuahkan hasil sama sekali dan justru mereka kerap mengusir beliau seraya berkata “keluarlah engkau dari negeri kami.” Bahkan anak-anak, orang-orang dungu, dan para hamba sahaya di negeri itu turut melontarkan ejekan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ketika beliau bersiap keluar dari Thaif, orang-orang berdiri dalam dua barisan. Mereka lalu menghina dan mencaci maki Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, melempari dengan batu hingga kedua tumit dan kaki beliau berdarah, dan kedua terompahnya diselimuti darah yang mengalir. Zaid bin Haritsah harus berjuang melindungi dan membela beliau sendirian sehingga kepalanya pun memar. Tindakan-tindakan bodoh tersebut terjadi bertubi-tubi sampai akhirnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyelinap masuk berlindung di balik tembok kediaman Utbah dan Syaibah, putra Rabi’ah yang terletak sekitar 3 mil dari Thaif. Kemudian Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu duduk di dinding tersebut dengan bersandar ke tembok di bawah naungan kebun anggur. Tragedi pahit yang baru saja dialami beliau sangat berpengaruh pada diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga beliau berdoa dengan sebuah do’a yang sangat masyhur:

“Ya Allah! Sesungguhnya kepada-Mu lah aku mengadu kelemahan kekuatanku, sedikitnya upayaku serta hina dinanya diriku dihadapan manusia. Wahai Yang Maha Pengasih di antara para pengasih! Engkaulah Pelindung orang-orang yang lemah. Engkaulah Rabbku, kepada siapa lagi Engkau menyerahkan diriku? Atau kepada musuh yang telah menguasai urusanku? Selama Engkau tidak murka kepadaku, aku tidak ambil peduli, karena kebaikan yang Engkau anugrahkan lebih luas bagiku. Dengan cahaya wajah-Mu yang menyinari segenap kegelapan dan yang karenanya urusan dunia dan akhirat menjadi baik. Aku berlindung agar Engkau tidak menurunkan Murka-Mu kepadaku atau kebencian-Mu melanda diriku. Engkaulah yang berhak menegurku hingga Engkau ridha. Tidak ada daya serta upaya, melainkan karena-Mu.”

Menyaksikan pemandangan tersebut, Utbah dan Syaibah bin Rabi’ah terkesan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu kedua putra Rabi’ah tersebut menghidangkan sepiring anggur kepada beliau yang dibawakan seorang budak keduanya yang beragama Nasrani bernama Addas. Beliau mengulurkan tangan untuk memakannya dengan membaca “bismillah (dengan menyebut nama Allah) kemudian beliau memakannya.

Usai meninggalkan kebun anggur milik kedua putra Rabi’ah tersebut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan perjalanan menuju Makkah dengan perasaan getir, pilu, dan sedih. Sesampai di daerah Qarn al-Manazil, tiba-tiba beliau dinaungi segumpal awan serta ditemani malaikat Jibril alaihissalam dan malaikat penjaga gunung. Pada saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menengadahkan kepalanya, Malaikat Jibril pun memanggilnya dan berkata “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengirimkan malaikat penjaga gunung kepadamu, agar engkau perintahkan kepadanya apa pun yang engkau inginkan.” Tetapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menolak tawaran malaikat penjaga gunung karena sesungguhnya mereka belum mengetahui dan semoga keturunan-keturunan mereka beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Beberapa hikmah dari perjalanan dakwah beliau tersebut dapat kita simpulkan:

  1. Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengalami kepedihan dan mengakui kelemahannya di hadapan Rabbnya meski beliau utusan Allah.
  2. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kita sebagai umatnya untuk membaca bismillah sebelum makan dan sebelum melakukan aktivitas lainnya.
  3. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki sifat pemaaf meski banyak orang yang menyakitinya.

(Dikutip dari Kitab Sirah Nabawiyah ar-Rahiq al-Makhtum karya Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, penulis terbaik Sirah Nabi versi Rabithah al-Alam al-Islami)

Semoga peristiwa ini dapat kita ambil pelajarannya, dan dari peristiwa ini Raudhatul Ulum turut mengabadikan peristiwa tersebut pada salah satu Gedung Belajar Kelas Unggulan Putra Madrasah Tsanawiyah Raudhatul Ulum Sakatiga.

Cek Juga

JSIT Wilayah Sumatera Selatan Gelar Acara Workshop Model Pembelajaran Terpadu

Dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan dan pembelajaran pada kurikulum Sekolah Islam Terpadu (SIT), Jaringan Sekolah …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *