Home / Redaksi / Umroh Salah Satu Jalan Untuk Bersihkan Jiwa

Umroh Salah Satu Jalan Untuk Bersihkan Jiwa

Taujih Ustadz KH. Tol’at Wafa Ahmad, Lc (Mudir Ponpes Raudhatul Ulum Sakatiga).

Oleh : Kiagus Abdul Gamal

Kamis, 22 Desember 2016.

Umroh kini telah menjadi pilihan banyak orang,  alasannya karena untuk perjalanan haji harus mengikuti antrian panjang lebih dari 10 tahun bahkan 15 tahun. Kalau kita hitung hitung umur,  bisa bisa kesempatan haji itu terlewatkan. Oleh sebab itu daripada tidak dapat datang ke Mekah untuk haji, maka lebih baik pergi umroh yang waktunya memang luas sepanjang tahun.

Fenomena yang ada membuat kita kaget,  dimana-mana kita temukan banyak masyarakat yang berangkat umroh. Betapa mudahnya dan banyaknya kita lihat saudara kita yang akan berangkat umroh yang dijadikan sebagai  pengganti haji yang mungkin tidak dapat diraih. Setiap bulan ada saja yang berangkat, walaupun kadang ada yang tertunda dengan alasan macam macam.

Ada 11 orang yang akan  berangkat umroh tahun ini. Alhamdulillah…… Insyaallah tanggal 7 akan berangkat dari Palembang ke Jakarta terus ke Turki terus ke Madinah. Ini adalah nikmat yang harus disyukuri oleh  kita semua. “Wa amma bini’matika fahadits”. “Lain syakartum laazidannakum wa lain kafartum inna ‘azdabi lasyadid”.

Ibadah umroh ini adalah salah satu alat untuk mensucikan jiwa kita yang memang kadang sering cenderung kepada kekotoran. Seperti yang diriwayatkan dalam sebuah hadis bahwa jiwa ini kadang di pagi hari kita dapati dia bersih,  tapi ternyata pada sore harinya dia kotor. Begitu cepatnya proses yang terjadi yaitu peralihan dari bersih ke kotor. Makanya harus ada keseimbangan. Seperti pakaian yang kotor tidak boleh dibiarkan kotor. Pakaian itu harus dicuci, dibersihkan agar tidak terjadi penumpukan.

Alhamdulillah,  Allah swt memberikan cara kepada hamba Nya bagaimana mensucikan jiwa. Rukun islam yang 5; sholat bisa melunturkan kotoran yang ada dalam jiwa. Baik yang wajib maupun sunnah, seperti sholat dhuha, sunnah rowatib atau tahajjud, semua adalah sarana untuk mensucikan jiwa.

Kedua puasa, baik yang  wajib maupun sunnah, adalah sarana untuk mensucikan jiwa. Dalam Al Quran, dikatakan ” La’allakum tattaquun”, orang yang bertaqwa adalah orang yang loyal terhadap islam dan ta’at pada aturan. Makanya ketika puasa, kita sering dapati orang berfikir sebelum berbuat sesuatu. Jangankan yang haram yang halalpun dia fikir dahulu karena takut merusak puasanya. Jika terasa kurang dengan wajibnya, maka ada puasa puasa sunnah seperti; senin kamis, ayyamul bidh, dan puasa Daud. Allah swt memperluas ibadah ibadah tersebut untuk kita. Tinggal kita mau atau tidak.

Ketiga zakat, infaq dan shodaqoh. Dinamai zakat agar dapat membersihkan harta. Tapi bukan hanya harta yang akan bersih oleh zakat, infaq dan shodaqoh tadi,  tapi juga jiwa. Filosofi zakat adalah  membersihkan jiwa dari sifat kikir dan ananiyah atau egois. Kita tidaklah  hidup sendiri, kita punya tetangga dan sahabat. Oleh sebab itu kita harus empati dan peduli. Sampai urusan masak sekalipun kita diajari oleh Rasulullah untuk memperbanyak air atau kuahnya untuk dibagi bagi ke kiri dan kanan. Di sini kita diajari bersosial dan empati. Dengan menzakatkan sebagian dari rizki yang diberikan oleh Allah swt,  jiwa dan hati jadi bersih, sosial kita pun jadi bagus.

Ada dua malaikat yang setiap paginya berdoa, satu untuk orang yang berinfaq dan satu lagi untuk orang yang pelit. Satu berdoa ” ALLAHUMMA A’THI MUNFIQON KHOLAFAN “, ” ya Allah berilah ganti bagi orang yang berinfaq “, dan satu lagi berdoa, ” ALLAHUMMA A’THI MUMSIKAN TALAFAN “, ” ya Allah berilah orang yang kikir satu kerusakan ” Ini doanya malaikat. Makanya jangan heran jika orang yang pelit mengalami hal hal seperti kehilangan, kemalingan dan lain lain.

Dalam istilah fiqih, zakat itu berarti annamaa’ yang artinya berkembang. Artinya tidak akan hilang atau berkurang harta karena dizakatkan atau disedekahkan, akan ada gantinya bahkan bisa bertambah.

Keempat, haji dan umroh juga adalah sarana dari Allah swt untuk mensucikan jiwa. Oleh sebab itu, manfaatkanlah  kesempatan umroh sebaik mungkin.  Nawaitu nya harus betul-betul baik. Umroh bukan tour dan  bukan jalan-jalan ke pasar. Fokus kita adalah ibadah. Disitu ada banyak keberkahan, baik tempat atau waktu, maka harus benar-benar dimanfaatkan.

Kalau ke pasar, kita diajarkan berdoa minta kebaikan dan dijauhkan dari kejahatan dari tempat tersebut. Tapi kita jarang melakukannya, kita jarang berdoa, makanya kita sering lupa diri saat berada di pasar atau mall. Berbeda dengan ibadah umroh, saat masuk tanah suci Mekkah dan Madinah semua doa adalah keberkahan. Setiap waktu dan tempat adalah keberkahan. Di sana ada banyak keberkahan baik tempat ataupun waktu.

Insyaallah walau hanya 9 hari,  kalau maksimal dalam menjalankan rangkaian ibadah umroh, mudah-mudahan mendapatkan keberuntungan. “QOD AFLAHA MAN ZAKKAHA WAQOD KHOOBA MAN DASSAHA”, “Beruntunglah orang yang mensucikannya dan celakalah orang yang mengotorinya “.

Kalau main hitung hitungan, kita bisa rugi ketika tidak ada amal yang bisa dijadikan sebagai penebus dosa. Dan syukur kalau ada amalan penebus dosa yang kita lakukan lebih banyak dari dosa yang dilakukan. Makanya dalam haji umroh ada doa semoga umrohnya mabrur. Semoga tijarohnya tidak rugi, ” Tijarotan Lan Tabuur ” maksud tijaroh disini adalah perdagangan dengan Allah. Jangan sampai bawaan dari umroh cuma cerita mencium hajar aswadnya atau bahkan tidak dapat apa-apa.

Makanya kita wasiatkan agar dapat khusyu’ dalam ibadah selama umroh. Dengan itu saat kembali diharapkan ada perubahan hati, jiwa  dan fikiran. Salah satu indikasi umroh yang mabrur adalah terjadinya perubahan baik setelahnya.

Semoga perjalanan umrohnya dimudahkan oleh Allah swt, selamat sampai tujuan, dan kembali dengan membawa perubahan. Amiin

Cek Juga

PPRU Kembali Meraih Penghargaan “Santri Award” oleh FORPESS

PPRU Sakatiga kembali meraih penghargaan “Santri Award” dengan kategori Pondok Pesantren yang telah menelurkan alumni …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *