Home / Informasi Umum / Taushiyah / Al-Isra’ wa l-Mi’raj: Antara Logika Manusia dan Kuasa Tuhan

Al-Isra’ wa l-Mi’raj: Antara Logika Manusia dan Kuasa Tuhan

Oleh: Rahmat Hidayat Zakaria

Peringatan Isra’ dan Mi’raj tidak asing lagi bagi kita. Peristiwa ini terjadi pada diri Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam. Beliau berada di Mekkah diperjalan malamkan oleh Tuhan, ini yang perlu digaris bawahi terlebih dahulu. Diperjalan malamkan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa dan dari sana ke Sidratil Muntaha dalam waktu yang amat singkat.

Itu karenanya ada riwayat yang mengatakan bahwa ketika selesai dari perjalanan tersebut, tempat pembaringan Nabi itu masih terasa hangat. Kalaulah dikatakan, perjalanan dari Mekah ke Palestina itu dapat ditempuh oleh siapa pun walaupun memakan waktu yang lama, namun perjalanan dari Masjidil Aqsa (Palestina) ke Sidratil Muntaha sampai sekarang belum ada yang berhasil ke sana. Yang berhasil melampaui angkasa luar memang ada, itu pun dengan menggunakan alat.

Pertanyaannya adalah apakah benar pengalaman itu dialami oleh Nabi dalam keadaan sadar atau jangan-jangan ia hanya sekedar mimpi? Karena tidak dapat dipungkiri ada yang beranggapan demikian.

Sekarang mari kita lihat, kita jadikan titik tolak pembicaraan ini melalui pendekatan al-Qur’an. Sebenarnya, al-Qur’an telah memerintahkan untuk ditadabburi, difahami dan diteliti kandungan maupun pesan-pesannya. Al-Qur’an telah memberikan isyarat-isyarat, susunan al-Qur’an biasanya surah terdahulu menjadi muqaddimah (pengantar) untuk surah yang akan datang; surah al-Fatihah menjadi pengantar untuk surah al-Baqarah, al-Baqarah pengantar untuk surah Ali ‘Imran dan seterusnya hingga surah al-Nahl yang merupakan pengantar untuk surah al-Isra’. Sebelum itu perlu diketahui bahwa al-Nahl artinya Lebah. Lebah adalah makhluk yang istimewa dan ajaib. Yang dimakan dan dipersembahkannya adalah yang baik-baik, ia tidak mengganggu kecuali diganggu, sengatannya dapat dijadikan obat, ada masyarakatnya itu dikatakan sampai 80.000, rumahnya persegi 6 semuanya efisien, ada bahasanya yaitu tarian. Surah al-Nahl ini menggambarkan betapa istimewanya ciptaan Allah, sedangkan surah al-Isra’ menggambarkan perbuatannya yang istimewa yaitu RasulullahShalallahu ‘Alaihi Wassallam.

Karena surah al-Nahl tadi dijadikan sebagai pengantar untuk surah al-Isra’, maka di awal surah al-Nahl itu dikatakan: “Telah datang ketetapan Allah (hari Kiamat), maka jangan minta cepat-cepat untuk didatangkan”. Sepintas, redaksi ini menimbulkan sebuah tanda tanya yaitu mengapa jika sudah datang ia dilarang minta cepat-cepat untuk didatangkan? Mestinya logika kita memahaminya, bakal atau akan datang, maka jangan minta cepat-cepat didatangkan. Jadi apa yang dilogikakan tersebut barulah jelas dan difahami maksudnya. Kalaulah redaksi telah datang, maka jangan minta cepat-cepat didatangkan tadi menunjukkan sesuatu, masa atau pun waktu yang tidak logis bagi manusia, tapi ia tidaklah mustahil bagi Tuhan. Hal tersebut dapat menyadarkan sekaligus mengingatkan bahwa logika manusia tidak dapat disamakan dengan kuasa Tuhan. Itu karena segala aktivitas manusia maupun segala sesuatu tidak dapat dipisahkan dari waktu. Lemparan bola memerlukan waktu untuk sampai ke suatu tempat; suara manusia lebih cepat sampainya ketimbang lemparan bola dan begitu pun juga dengan cahaya yang lebih cepat waktu sampainya daripada suara manusia. Walaupun segala sesuatu memerlukan waktu dan ada unsur-unsur relativitasnya, namun ada wujud atau Zat yang tidak memerlukan waktu yaitu Allah Subhanahu Wata’ala. Waktu dulu, sekarang dan yang akan datang bagi Allah adalah sama. Allah tidak memerlukan waktu untuk menciptakan sesuatu (QS. al-Nahl: 40). Begitu juga dengan apa yang terjadi pada diri Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam menyangkut Isra dan Mi’raj, perjalanan itu bukanlah perjalanan Nabi, karena perbuatan atau perjalanan beliau memerlukan waktu untuk menempuhnya, tapi ia diperjalan malamkan.

Oleh sebab itu, boleh jadi ada ciptaan Allah yang bisa menempuh jarak yang begitu jauh dengan cepat dan dalam waktu yang amat singkat, yang nalar manusia sangat terbatas untuk menjangkau dan mengetahui segala ciptaanNya (QS. al-Nahl: 8).

Dikarenakan pengalaman Isra’ dan Mi’raj yang terjadi pada diri Nabi ini membuat logika manusia tidak semuanya membenarkan akan kebenaran peristiwa tersebut, maka di akhir-akhir surah al-Nahl Allah Subhanahu Wata’ala mengingatkan: “(Hai Muhammad), kamu nanti bakal menghadapi berbagai macam pendapat, maka bersabarlah, janganlah kamu bersedih hati atas pengingkaran orang-orang” (QS. al-Nahl: 127). Ayat ini mengindikasikan bahwa pengalaman Isra’ dan Mi’raj itu tidak mustahil jika ia diingkari kebenarannya, terutama bagi manusia yang menyikapinya dengan menggunakan logika dan nalar semata-mata. Apabila kita menyoroti peristiwa tersebut melalui pendekatan dari teori-teori atau dasar filosofis dari ilmu pengetahuan saat ini, hal tersebut dapat diamati melalui tiga hal: pertama, trial and error (coba-coba); kedua, melalui pengamatan (baik itu melalui kelima panca indera maupun akal); dan yang ketiga, melalui experiment (percobaan). Pengalaman Isra’ dan Mi’raj jika diamati menggunakan pendekatan atau toluk ukur dari tiga teori di atas, maka peristiwa tersebut menjadi mustahil dan tidak logis. Pun begitu juga, jika Isra’ dan Mi’raj itu ditinjau melalui pendekatan ilmiah, maka ia menjadi tidak ilmiah lagi.

Umum diketahui bahwa manusia tidak terlepas dari salah dan keliru. Kenapa manusia salah dan keliru? salah satu penyebabnya adalah karena salah cara mendekati sesuatu atau salah dalam menggunakan alat. Seseorang dikatakan keliru apabila menikmati suara musik melalui mata; seseorang keliru jika merasakan manis atau asinnya suatu masakan melalui telinga; dan seseorang dapat keliru apabila mengukur lebarnya suatu ruangan melalui timbangan. Jadi segala sesuatu ada cara masing-masing untuk mendekatinya. Peristiwa Isra’ dan Mi’raj apabila ditinjau dengan pendekatan akal atau ilmiah tadi saja sudah ditolak, lalu pendekatan apa yang harus kita gunakan, apakah dengan mata, telinga maupun akal? Karena jika salah cara mendekatinya, maka salah juga dalam menyimpulkannya.

Oleh karena itu, manusia perlu cara untuk memahaminya, karena manusia mempunyai akal dan hati, ilmu dan iman. Satu-satunya pendekatan yang harus digunakan dalam memahami peristiwa tersebut adalah dengan pendekatan imani, yaitu percaya.

Pendekatan iman (percaya) tidak dapat dikesampingkan dan tidak kalah pentingnya bagi umat Islam, karena ia juga termasuk metode epistemologis guna memahami sesuatu. Salah satu ibadah atau media untuk menanamkan kepercayaan (keimanan) ke dalam hati manusia akan wujud sang Pencipta dan wujud yang Maha kuasa adalah shalat. tumblr_mnydmwGHJP1rx5g6yo1_1280Itu sebabnya shalat inilah yang merupakan oleh-oleh dari perjalanan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam.

Shalat adalah kebutuhan hati dan akal. Dikarenakan pengalaman Isra’ dan Mi’raj itu memerlukan pendekatan iman untuk membenarkan peristiwa tersebut, maka secara tidak langsung melalui ibadah shalat ini tertanam kepercayaan ke dalam diri manusia akan keMahakuasaan Allah atas segala sesuatu. Allah Maha Kuasa memperjalan malamkan RasulNya dalam waktu yang amat singkat. Jika tertanam di dalam hati manusia akan keMaha KuasaanNya, ia akan mengimani dan membenarkan peristiwa tersebut.

Dari uraian tadi dapat disimpulkan bahwa peristiwa Isra’ dan Mi’raj adalah sesuatu yang harus diimani atau dipercayai, pembenarannya adalah pembenaran hati. Itu sebabnya, ada sementara filosof yang menyatakan bahwa seseorang harus percaya bukan karena ia tahu, karena kalau sudah tahu ia tidak lagi dinamai percaya. Kita percaya, karena al-Qur’an telah menceritakan akan hal tersebut. Walaupun peristiwa Isra’ dan Mi’raj adalah sesuatu yang suprarasional yang tidak terjangkau oleh nalar, namun ia dapat dijangkau oleh Iman. Itu karenanya, sebelum
diceritakan tentang Isra’, Allah terlebih dahulu mengawali pembicaraanNya dengan perkataan subhaana yaitu Mahasuci Allah. Perkataan subhaana tidak diucapkan dan tidak diperuntukkan kecuali untuk sesuatu yang aneh, ajaib dan yang istimewa atau untuk sesuatu yang dapat mengagumkan seseorang. Dengan demikian, jangan anggap Allah tidak mampu dan tidak kuasa akan itu, karena Dia Mahasuci atas segala kekurangan yang tergambar di dalam benak manusia. Wallahu a‘lam bishshawaab.*

Penulis adalah dosen di UIN Raden Fatah dan Universitas Muhammadiyah Palembang

Sumber : Hidayatullah.com

Cek Juga

Beratnya Ikhlas

Salah seorang ulama mengatakan, – Manusia akan binasa kecuali orang-orang ‘alim – Orang-orang ‘alim akan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Al-Isra' wa l-Mi'raj: Antara Logika Manusia dan Kuasa Tuhan

Yangın Tüpü Böcek İlaçlama Baca Temizliği Sprinkler Sistemi kadikoy escort maltepe escort atasehir escort