Heboh! 18 Santri MA Raudhatul Ulum Sakatiga Tembus UNSRI & ITERA Lewat SNBP 2026, Jurusan Teknik & Hukum Jadi Incaran!

Sakatiga – Langit sore di kawasan Pondok Pesantren Raudhatul Ulum (PPRU) Sakatiga berubah menjadi saksi bisu sebuah sejarah. Gemuruh takbir dan sholawat yang pecah dari ribuan bibir santri menggema hingga ke persawahan. Bukan perayaan hari besar, melainkan sebuah “letusan dahsyat” prestasi akademik: 18 santriwati dan santri terbaik Madrasah Aliyah Raudhatul Ulum resmi menaklukkan Seleksi Nasional Berbasis Prestasi (SNBP) 2026.

Di kompleks yang dikenal dengan disiplin tinggi dan hafalan Al-Qur’an itu, kabar ini dirasakan bukan sekadar kelulusan biasa. Ini adalah bukti nyata bahwa di balik dinding asrama, di sela-sela rutinitas mengaji dan pengabdian kepada kiai, lahir generasi yang sanggup mengukir prestasi di kampus-kampus negeri bergengsi.

Menggebrak Fakultas Teknik dan Kedokteran

Dari data resmi yang dirilis pengurus pondok, dominasi Universitas Sriwijaya (UNSRI) begitu mutlak. Namun yang paling mencuri perhatian adalah bagaimana para santri ini merangsek masuk ke jurusan-jurusan “zona merah” yang selama ini dianggap hanya milik sekolah urban.

Senjata pertama diluncurkan oleh M. Adrian Putra yang sukses menembus Teknik Pertambangan UNSRI. Disusul oleh Arjun Adinata di Teknik ElektroFaiz Jevindra di Teknik Arsitektur, dan Anwar Aziz di Teknik Sipil. Tak ketinggalan, M. Elshirazy Abrar membuktikan bahwa santri juga melek digital dengan lolos di Teknik Informatika UNSRI, sementara Mochamad Naufal Musyaffa membawa nama harum MA Raudhatul Ulum ke kampus biru Institut Teknologi Sumatera (ITERA) di jurusan yang sama.

Keseimbangan Adab dan Intelektualitas

Tidak hanya unggul di sains, kekuatan para santri di bidang sosial dan hukum juga mengguncang. Raka Hamdani siap menjadi pembela keadilan di Ilmu Hukum, sementara Antini Anjelita akan mempelajari dinamika publik di Ilmu Komunikasi. Bintang bersinar terang dari Aqielah Dzatil Izzah Kusumaputri yang memilih Psikologi, serta Lidya Syifa Aulya yang menaklukkan Ekonomi Akuntansi—dua bidang yang membutuhkan ketelitian tingkat tinggi.

Kesuksesan Zakiah Mutmainnah di Pendidikan Guru PAUD menjadi sentuhan emosional tersendiri. Ia membuktikan bahwa jiwa keibuan yang diasah di pondok justru menjadi tiket emas menuju pendidikan negeri. Sementara Redian Saputra memilih petualangan bahari dengan lolos di Teknik Kelautan ITERA.

Haru di Kaki Para Kiai

Di balik gemerlap 18 nama itu, suasana haru menyelimuti Majelis Pondok. Pengurus Pondok Pesantren Raudhatul Ulum Sakatiga menyampaikan rilis resmi yang diawali dengan kalimat penuh kesyukuran: “Alhamdulillah Bini’matihi tatimmushoolihaat.”

Dalam pernyataan yang dirilis, pihak ponpes menegaskan bahwa ini bukan hasil instan, melainkan buah dari doa dan bimbingan tanpa henti.

“Teriring ungkapan syukur tanpa henti atas nikmat yang selalu tercurah untuk keluarga besar Mahad tercinta PPRU Sakatiga. Terima kasih atas segala doa, bimbingan, dan motivasi dari Kiai, Ibu Nyai, segenap dewan guru, serta pengurus dan karyawan PPRU Sakatiga. Semoga Allah jaga dan limpahkan keberkahan untuk kita semua. Aamiin,” tulis pengurus.

Pesan untuk Generasi Berikutnya

Kepala Madrasah Aliyah Raudhatul Ulum dalam sambutannya sesaat setelah pengumuman menyebutkan bahwa ini adalah “buah dari keyakinan bahwa tidak ada mimpi yang terlalu tinggi bagi seorang santri.” Dengan semangat Tafaqquh fiddin dan penguasaan ilmu umum, MA Raudhatul Ulum berhasil membuktikan bahwa lembaga pendidikan di bawah naungan pondok pesantren mampu bersaing di kancah nasional.

Selamat, 18 pahlawan MA Raudhatul Ulum! Kalian adalah bukti bahwa di balik kopiah dan kerudung, tersimpan kekuatan intelektual yang siap membangun peradaban. Selamat mengukir prestasi di bangku kuliah, dan jadilah duta pesantren yang membawa keberkahan bagi umat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.